Tuesday, March 1, 2022

Pengertian Luminol

Zat Luminol

Luminol (C8H7N3O2) adalah suatu zat kimia yang menghasilkan kemiluminesensi, dengan cahaya pendar berwarna biru, ketika dicampur dengan suatu agen pengoksidasi yang sesuai. Luminol merupakan suatu padatan kristalin putih-hingga-kuning-pucat yang larut dalam banyak pelarut organik, namun tak larut dalam air.

Penyidik forensik menggunakan luminol untuk mendeteksi jumlah jejak darah pada tempat kejadian perkara (TKP), karena zat ini bereaksi dengan besi dalam hemoglobin. Ahli biologi menggunakan zat ini dalam asai seluler untuk mendeteksi tembagabesi, dan sianida, serta protein spesifik pada western blot.

Bila luminol disemprotkan secara merata di suatu area, sejumlah oksidator teraktivasi membuat luminol memancarkan cahaya biru yang dapat dilihat di ruangan yang gelap. Cahaya hanya berlangsung sekitar 30 detik, namun penyidik dapat mendokumentasikan efeknya dengan fotografi pajaran-panjang. Penyidik TKP harus menerapkannya secara merata untuk menghindari hasil yang menyesatkan, karena jejak darah tampak lebih terkonsentrasi di area yang menerima lebih banyak semprotan. Intensitas cahaya tidak menunjukkan jumlah darah atau aktivator lain yang ada, namun hanya menunjukkan distribusi jumlah jejak di daerah tersebut.


Kemiluminesensi

Untuk mengeluarkan pendarannya, luminol harus diaktivasi oleh suatu zat pengoksidasi. Biasanya, suatu larutan mengandung hidrogen peroksida (H2O2) dan ion hidroksida dalam air merupakan aktivatornya. Dalam kehadiran katalis seperti besi atau senyawa periodat, hidrogen peroksida terurai membentuk oksigen dan air:

2 H2O2 → O2 + 2 H2O
H2O2 + KIO4 → KIO3 + O2 + H2O

Pengaturan laboratorium sering menggunakan kalium ferisianida atau kalium periodat untuk katalis. Dalam deteksi darah forensik, katalisnya adalah zat besi yang ada di hemoglobin.[2] Enzim dalam berbagai sistem biologis juga dapat mengkatalisis dekomposisi hidrogen peroksida.

Luminol bereaksi dengan ion hidroksida, membentuk dianion. Oksigen yang dihasilkan dari hidrogen peroksida kemudian bereaksi dengan luminol dianion. Produk dari reaksi ini—suatu peroksida organik tak stabil—dibuat oleh hilangnya molekul nitrogen, perubahan elektron dari keadaan tereksitasi sampai keadaan dasar, dan emisi energi sebagai foton. Emisi ini menghasilkan cahaya biru.


Penggunaan oleh penyidik TKP

Sejarah

Pada tahun 1928, kimiawan Jerman H. O. Albrecht menemukan bahwa darah, di antara zat lainnya, meningkatkan luminesensi luminol dalam larutan alkali hidrogen peroksida.[3][4] Pada tahun 1936, Karl Gleu dan Karl Pfannstiel mengkonfirmasi peningkatan ini dengan adanya hematin, komponen darah.[5] Pada tahun 1937, ilmuwan forensik Jerman Walter Specht membuat penelitian ekstensif tentang aplikasi luminol untuk mendeteksi darah di TKP.[6] Pada tahun 1939, ahli patologi San Francisco, Frederick Proescher dan A. M. Moody membuat tiga pengamatan penting tentang luminol:[7][8]

  1. meskipun tes ini dugaan, area besar dari material dugaan dapat diperiksa dengan cepat;
  2. darah yang dikeringkan dan didekomposisi memberikan reaksi yang lebih kuat dan lebih awet daripada darah segar; dan
  3. jika luminesensi hilang, dapat diproduksi ulang dengan aplikasi larutan luminol-hidrogen peroksida segar; darah kering dapat dibuat luminesen berulang kali.

Teori

Penyidik tempat kejadian perkara (TKP) menggunakan luminol untuk menemukan jejak darah, bahkan jika seseorang telah membersihkan atau menghilangkannya. Penyidik menyemprotkan larutan luminol dan oksidator. Besi dalam darah mengkatalisis luminesensi. Jumlah katalis yang diperlukan untuk menyebabkan reaksi sangat kecil relatif terhadap jumlah luminol, yang memungkinkan pendeteksian bahkan jumlah jejak darah. Cahaya biru berlangsung selama sekitar 30 detik per aplikasi. Mendeteksi cahaya membutuhkan ruangan yang cukup gelap. Setiap cahaya yang terdeteksi dapat didokumentasikan oleh fotografi pajaran-panjang.

Kekurangan

Luminol memiliki kekurangan yang bisa membatasi penggunaannya dalam investigasi TKP:

  • Kemiluminesensi luminol juga dapat dipicu oleh sejumlah zat seperti tembaga atau senyawa kimia yang mengandung tembaga,[9] dan pemutih tertentu. Akibatnya, jika seseorang membersihkan TKP secara menyeluruh dengan larutan pemutih, residu pembersih membuat keseluruhan TKP menghasilkan cahaya biru khas, yang secara efektif menyamarkan bukti organik seperti darah.
  • Saus lobak, melalui enzim lobak peroksidase, mengkatalisis oksidasi luminol, memancarkan cahaya pada 428 nm (biru dalam spektrum cahaya tampak), yang dapat menyebabkan positif palsu
  • Luminol dapat mendeteksi jumlah kecil darah yang ada di urin, dan dapat terdistorsi jika urin hewan hadir di ruangan yang sedang diuji.
  • Luminol bereaksi dengan kotoran, menyebabkan cahaya yang sama seolah-olah itu adalah darah.
  • Kehadiran luminol dapat mencegah tes lain dilakukan pada barang bukti. Namun, telah ditunjukkan bahwa DNA dapat berhasil diekstraksi dari sampel yang diberi pereaksi luminol.[10]
  • Asap berlebih pada ruang tertutup—misal, mobil dimana seseorang sering merokok dapat menyebabkan hasil positif dengan Luminol.[8]

Sunday, February 13, 2022

 

Cara Membuat Sate Ayam Madura Praktis di Rumah dan Maknyus


Sate Madura dikenal dengan bumbu khasnya yang kental serta bercampur kacang tanah tumbuk. Untuk sebagian orang sate ini menjadi favorit karena bumbunya yang enak. 

Bumbu memang menjadi satu hal yang begitu diperhatikan ketika membuat sate. Jika Mama ingin membuat sate khas dari Madura dan memiliki sisa daging ayam di rumah, maka bisa membuatnya sendiri. 

Bahan-bahan: 

  • 150 gr daging ayam potong dadu
  • 2 sdm kecap manis
  • 1 batang serai
  • 1/4 sdt garam
  • 1/2 sdt gula
  • 2 siung bawang merah iris
  • 2 siung bawang putih
  • 2 siung bawang merah
  • 150 gram kacang
  • 1 butir kemiri
  • 1 buah cabai merah besar
  • 500 ml air
  • Minyak goreng
  • Tusuk sate secukupnya

Cara membuat: 

  1. Campurkan ayam, kecap, serai, garam, gula, lada dan bawang merah iris dalam satu wadah. Diamkan selama 30 menit. 
  2. Tusuk ayam dengan tusuk sate, lalu bakar hingga matang. Sisihkan. 
  3. Goreng kacang, bawang putih, bawah merah, kemiri dan cabai besar hingga matang. Haluskan campuran kacang dengan blender (tambahkan air) hingga benar-benar halus. 
  4. Tumis kacang di atas api kecil. Tambahkan air dan masak hingga mengeluarkan minyak. 
  5. Sajikan sate dengan bumbu kacang.

Pengertian Luminol

Zat Luminol Luminol  (C 8 H 7 N 3 O 2 ) adalah suatu  zat kimia  yang menghasilkan  kemiluminesensi , dengan cahaya pendar berwarna biru, ke...